Teman?
Sahabat?
Cinta?
Semua itu selalu sakit...
Juga penyembuh...
Penolong..
Namun bisa menipu..
Senin, 12 April 2010
Senin, 05 April 2010
Itik buruk rupa
Akulah si itik buruk rupa..
tak ada teman, saudarapun tak ada
bila aku sedih, siapa yang peduli? Orang tua saja aku tidak punya!
akulah si itik buruk rupa..
Mengembara...mencoba terbang dgn sayap-sayap patah..
Berkeyakinan sesudah sedih ada tawa...memang ada..tapi tawa penderitaan...
akulah si itik buruk rupa...
Berikrar mati tak akan mencintai sang elang di atas sana...
Tapi hati malah memutus ikrarku..
Tak akan pernah...sang elang menapakan kakinya di danau kematian ini...
akulah si itik buruk rupa...
Yang tak kan pernah jadi cinderela...!
tapi,
itik buruk rupa tak perlu teman...air matanya akan jadi pembasuh luka...
Ia tak perlu di rindukan...
Krna ia senang merindu
ia tak perlu sahabat...
Bayangan adalah teman paling setia..
Ia sedih,
ia luka,
ia marah
ia suka
ia duka
ia benci
ia senang menjadi itik buruk rupa, seperti...aku...
tak ada teman, saudarapun tak ada
bila aku sedih, siapa yang peduli? Orang tua saja aku tidak punya!
akulah si itik buruk rupa..
Mengembara...mencoba terbang dgn sayap-sayap patah..
Berkeyakinan sesudah sedih ada tawa...memang ada..tapi tawa penderitaan...
akulah si itik buruk rupa...
Berikrar mati tak akan mencintai sang elang di atas sana...
Tapi hati malah memutus ikrarku..
Tak akan pernah...sang elang menapakan kakinya di danau kematian ini...
akulah si itik buruk rupa...
Yang tak kan pernah jadi cinderela...!
tapi,
itik buruk rupa tak perlu teman...air matanya akan jadi pembasuh luka...
Ia tak perlu di rindukan...
Krna ia senang merindu
ia tak perlu sahabat...
Bayangan adalah teman paling setia..
Ia sedih,
ia luka,
ia marah
ia suka
ia duka
ia benci
ia senang menjadi itik buruk rupa, seperti...aku...
Jumat, 26 Maret 2010
Untuk orang-orang yang menganggapku anak durhaka.
(mungkin blog ku ini bukan lah tempat yg tepat untuk mencurahkan semua beban di hati ku..tapi aku hanya ingin melampiaskan benciku, marahku, kesalku, sedihku, tangisku, pada org2 yg sok suci, yg menganggapku anak durhaka..,)
anak durhaka...
Sebutan ini sangat dekat kaitannya dgn legenda malin kundang...semua org psti akan berfikir bgtu...
Anak durhaka..
Prase yg hanya terdiri dari dua kata, yg bilamana menyandang prase ini pasti akan di kucilkan, di diskriminasi, di cibir, bahkan di kutuk..!
Cerita ini bukan tentang ibuku krn ibuku adalah seorang bidadari surga..
Ini ttg ayah...ayah yg membuatku menjadi malin kundang! Malin kundang yg d kutuk hatinya jadi batu!
aku ingin tanya..apakah kalian pernah merasakan sakitnya ketika org tua menikah lagi dgn orang yg jelas2 tak kalian kehendaki?
Apakah kalian pernah merasakan sakit hati yg sngat sakit saat org tua menganggap kalian bkan anaknya lagi?
Apakah kalian pernah merasa orang tua bersenang2 d luar sana, sementara kalian kelaparan di rumah krn tk ad makanan?
Pernahkah kalian menjadi aku? Menjadi manusia tpi tk pnya semangat hidup.! Pernahkah?
Pernahkah kalian di jauhi oleh sahabat2 kalian?
Pernahkah kalian di cap 'durhaka' hanya krn kesalahan yg tak pernah kalian lakukan?'
pernahkah kalian merasakan ketika mencintai seseorang, org itu malah menjauhi kalian?
Pernahkah? Jika pernah, mengertilah...ku mohon!
Tapi jika kalian tak pernah merasakannya, jgn sok suci menganggapku anak tak berbudi...jgn sok tau menyebutku anak durhaka!!! Karena kalian tak pernah melihat hatiku!!!! Semoga hanya aku yg prnah merasakan kesakitan ini!!
anak durhaka...
Sebutan ini sangat dekat kaitannya dgn legenda malin kundang...semua org psti akan berfikir bgtu...
Anak durhaka..
Prase yg hanya terdiri dari dua kata, yg bilamana menyandang prase ini pasti akan di kucilkan, di diskriminasi, di cibir, bahkan di kutuk..!
Cerita ini bukan tentang ibuku krn ibuku adalah seorang bidadari surga..
Ini ttg ayah...ayah yg membuatku menjadi malin kundang! Malin kundang yg d kutuk hatinya jadi batu!
aku ingin tanya..apakah kalian pernah merasakan sakitnya ketika org tua menikah lagi dgn orang yg jelas2 tak kalian kehendaki?
Apakah kalian pernah merasakan sakit hati yg sngat sakit saat org tua menganggap kalian bkan anaknya lagi?
Apakah kalian pernah merasa orang tua bersenang2 d luar sana, sementara kalian kelaparan di rumah krn tk ad makanan?
Pernahkah kalian menjadi aku? Menjadi manusia tpi tk pnya semangat hidup.! Pernahkah?
Pernahkah kalian di jauhi oleh sahabat2 kalian?
Pernahkah kalian di cap 'durhaka' hanya krn kesalahan yg tak pernah kalian lakukan?'
pernahkah kalian merasakan ketika mencintai seseorang, org itu malah menjauhi kalian?
Pernahkah? Jika pernah, mengertilah...ku mohon!
Tapi jika kalian tak pernah merasakannya, jgn sok suci menganggapku anak tak berbudi...jgn sok tau menyebutku anak durhaka!!! Karena kalian tak pernah melihat hatiku!!!! Semoga hanya aku yg prnah merasakan kesakitan ini!!
Minggu, 21 Maret 2010
Sebuah nasehat untuk ayah...
Ayah...
Kau adlh pemimpin kami, imam kami.
Kau penunjuk jalan, kau penerang kala kami bersua peta buta...
tapi.,aku kecewa...
AYAH...tidakkah kau tahu, jalan yg kau tunjukkan tak lebih dari jurang mematikan?
Apakah kau tahu, telaga kasihmu kini jadi neraka?
memaksa kami tetap mengikuti jalanmu...
Bersikukuh kau lah yg benar!
Tak peduli rintih kesakitan kami!!
Kami menderita! Ayah!
maafkan kami...
Tak bisa terus ada di jalanmu
jalanmu bersimbah air mata
yg tak pernah berujung suka...
kami berada disini...ayah...
Di jalan berbeda..
Meski beraral rintangan..
Meski selalu terkait duka...
Tapi bahagia...masih ada..
ayah..!
Tak bisakah kau kembali?
Jalanmu..gelap!
kembalilah ayah...!
Lihatlah kami...
Rela memberimu terang mentari,
meski untuk meraihnya...
Di rajamlah hina lh balasannya..
kembalilah ayah!
Langkahmu terlalu jauh!
Kembalilah!!
Kau adlh pemimpin kami, imam kami.
Kau penunjuk jalan, kau penerang kala kami bersua peta buta...
tapi.,aku kecewa...
AYAH...tidakkah kau tahu, jalan yg kau tunjukkan tak lebih dari jurang mematikan?
Apakah kau tahu, telaga kasihmu kini jadi neraka?
memaksa kami tetap mengikuti jalanmu...
Bersikukuh kau lah yg benar!
Tak peduli rintih kesakitan kami!!
Kami menderita! Ayah!
maafkan kami...
Tak bisa terus ada di jalanmu
jalanmu bersimbah air mata
yg tak pernah berujung suka...
kami berada disini...ayah...
Di jalan berbeda..
Meski beraral rintangan..
Meski selalu terkait duka...
Tapi bahagia...masih ada..
ayah..!
Tak bisakah kau kembali?
Jalanmu..gelap!
kembalilah ayah...!
Lihatlah kami...
Rela memberimu terang mentari,
meski untuk meraihnya...
Di rajamlah hina lh balasannya..
kembalilah ayah!
Langkahmu terlalu jauh!
Kembalilah!!
Minggu, 14 Maret 2010
Sepucuk surat untuk bunda..
Wahai malaikat-malaikat penghuni surga..
Jika berkenan sampaikanlah suratku untuk bunda...yg ku tulis dgn ribuan kata rindu, ku sampul dgn do'a bahagia untuknya...
Ketuklah rumah bundaku..
berikan salam padanya..
Tersenyumlah padanya..
Berikanlah suratku padanya...
wahai malaikat penghuni langit...
Jika berkenan tolong jaga bundaku di sana, sampai aku bisa ke sana bersamanya..
wahai malaikat penghuni surga...
Tolong jaga tidur bunda, jgn biarkan ia bermimpi buruk seperti aku yg di hantui mimpi buruk kehilangannya..
Jgn biarkan ia menangis seperti tangisku merindukan hadirnya...
wahai malaikat penghuni langit..
Sudikah menjadi post ku ketika aku ingin menulis surat lagi untuk bunda...karena aku belum bisa menghampirinya sendiri...
Jika berkenan sampaikanlah suratku untuk bunda...yg ku tulis dgn ribuan kata rindu, ku sampul dgn do'a bahagia untuknya...
Ketuklah rumah bundaku..
berikan salam padanya..
Tersenyumlah padanya..
Berikanlah suratku padanya...
wahai malaikat penghuni langit...
Jika berkenan tolong jaga bundaku di sana, sampai aku bisa ke sana bersamanya..
wahai malaikat penghuni surga...
Tolong jaga tidur bunda, jgn biarkan ia bermimpi buruk seperti aku yg di hantui mimpi buruk kehilangannya..
Jgn biarkan ia menangis seperti tangisku merindukan hadirnya...
wahai malaikat penghuni langit..
Sudikah menjadi post ku ketika aku ingin menulis surat lagi untuk bunda...karena aku belum bisa menghampirinya sendiri...
Kamis, 04 Maret 2010
Kamis, 11 Februari 2010
Wasiat Takdir
Kau wasiatkan kenangan yang mencambuk detik-detik waktuku.
Melukai lugu asa-asa itu.
Apakah aku sedang merindukan rindu yang tidak merindukanku?
Mencita-citakan cinta yang tidak mencita-citakanku?
Beri tahu aku,
dimana alamat takdir itu!
Melukai lugu asa-asa itu.
Apakah aku sedang merindukan rindu yang tidak merindukanku?
Mencita-citakan cinta yang tidak mencita-citakanku?
Beri tahu aku,
dimana alamat takdir itu!
Kisahku pada bintang
Bintang pudar menyemai lirih
Benih cahayanya terbakar gersang padang tandus kehidupan,
kemarau pada harapan.
Setitik indah, berfatwa karang
ku terus ada di titian ILAHI
untuk....
Menunggumu.!
Ku prasastikan kau di dalamnya hatiku...
Layaknya biru yang menghias laut.
Selamanya BaQA, tiada kan sirna!
Meski...Kau tak dapat ku miliki.
Benih cahayanya terbakar gersang padang tandus kehidupan,
kemarau pada harapan.
Setitik indah, berfatwa karang
ku terus ada di titian ILAHI
untuk....
Menunggumu.!
Ku prasastikan kau di dalamnya hatiku...
Layaknya biru yang menghias laut.
Selamanya BaQA, tiada kan sirna!
Meski...Kau tak dapat ku miliki.
Sabtu, 06 Februari 2010
Fatamorgana bahagia...Takkan pernah menyata....
Malam ini dingin...aku sendiri mama...aku berjuang...ikhtiar agar tabah terima realita,...berusaha berdamai dengan nurani...membujuk agar tak tersesat dari jalan Ilahi....
Coba hadirkan senyum di antaqa taburan luka...membendung air mata yang jatuh tak bertara.
Dalam doa malamku...ku mengingatmu selalu mama...di tiap mimpiku...berharap penuh kau hadir...meski hanya sekejab...meski hanya melihat...tanpa bisa rengkuh mama...hanya menatap.
Tempat mama kini jauh,
tak satu daya yang kuasa 'tuk wujudkan mama jadi nyata... karena mama adalah hidup dan hidup berpasangan dengan mati....
Manusia hidup bertemu cobaan, penderitaan dan sengsara...mama.. Kini dengan linang air mata, dengan jiwa hampa...walau bagaimana harus ku sadar... mama milik Tuhan...sekarang Tuhan mengambil milik-Nya, dan aku bisa apa? Sepersekian detik pun ajal tak bisa di tunda...mama pernah bilang begitu kan...
Sebelum aku meminta ampun...tanpa sempat bersalam sayang...ku dapati mama telah beku... Memandangmu dengan kafan putih itu... Ya Allah...aku seperti gila...kenapa mama begitu cepat...?
Bukankah sehari sebelumnya mama berikrar "Mama sudah sembuh, dan berharap esok hari kami, semua anakmu...menjemputmu pulang ke rumah...dan sebagaimana anak-anak lain...merasakan lagi kasih ibu dan lindungan ayah...". Lalu esoknya mama datang sendiri...dan menyihir segala ketegaran kami jadi telaga penuh linang mata... Harap itu kini tinggal mimpi... Tuhan telah sembuhkan mama memisahkan Roh mama dari jazad mama. Kulihat mama tersenyum di sana, lambaikan tangan tanda berpisah...tak bisa ku balas senyummu mama....awan putih lebih dulu menyelimutimu dan tak kuasa ku balas lambai tanganmu....Angin itu perlahan meniupmu...menjauh dari pandangku...jauh dan jauh...naik kelangit...tanpa meninggal bekas...lenyap di balik mega hitam...bersama hujan tercurah pedihku...terungkap semua duka...hanya pada alam..!
Coba hadirkan senyum di antaqa taburan luka...membendung air mata yang jatuh tak bertara.
Dalam doa malamku...ku mengingatmu selalu mama...di tiap mimpiku...berharap penuh kau hadir...meski hanya sekejab...meski hanya melihat...tanpa bisa rengkuh mama...hanya menatap.
Tempat mama kini jauh,
tak satu daya yang kuasa 'tuk wujudkan mama jadi nyata... karena mama adalah hidup dan hidup berpasangan dengan mati....
Manusia hidup bertemu cobaan, penderitaan dan sengsara...mama.. Kini dengan linang air mata, dengan jiwa hampa...walau bagaimana harus ku sadar... mama milik Tuhan...sekarang Tuhan mengambil milik-Nya, dan aku bisa apa? Sepersekian detik pun ajal tak bisa di tunda...mama pernah bilang begitu kan...
Sebelum aku meminta ampun...tanpa sempat bersalam sayang...ku dapati mama telah beku... Memandangmu dengan kafan putih itu... Ya Allah...aku seperti gila...kenapa mama begitu cepat...?
Bukankah sehari sebelumnya mama berikrar "Mama sudah sembuh, dan berharap esok hari kami, semua anakmu...menjemputmu pulang ke rumah...dan sebagaimana anak-anak lain...merasakan lagi kasih ibu dan lindungan ayah...". Lalu esoknya mama datang sendiri...dan menyihir segala ketegaran kami jadi telaga penuh linang mata... Harap itu kini tinggal mimpi... Tuhan telah sembuhkan mama memisahkan Roh mama dari jazad mama. Kulihat mama tersenyum di sana, lambaikan tangan tanda berpisah...tak bisa ku balas senyummu mama....awan putih lebih dulu menyelimutimu dan tak kuasa ku balas lambai tanganmu....Angin itu perlahan meniupmu...menjauh dari pandangku...jauh dan jauh...naik kelangit...tanpa meninggal bekas...lenyap di balik mega hitam...bersama hujan tercurah pedihku...terungkap semua duka...hanya pada alam..!
Selasa, 02 Februari 2010
10 tahun melalui jalan kenyataan pahit...
Bukan hanya hari ini, tapi hari esok dan seterusnya...aku takkan melihat Mama lagi.... Belajar menerima realita...selamanya tak melihat Mama...bahkan saat kiamat tiba...! "perjumpaan itu takkan pernah ada". Perihku tak terlukis... tak satu kata pun yang bisa gambarkan...bahkan syair pun tak mampu mengutarakan...
Walau mata dan kepalaku melihat dengan kejelasan yang teramat sangat, jazad Mama terbujur kaku, dingin dalam kebekuan tak terhitung derajat, meski Mama tetap diam ketika aku tak punya lagi air mata...dan semua susah payah membujuk bahwa yang terbaring dan tersenyum selamanya...yang tak lagi bernafas kehidupan...itu adalah Mama...
Tapi sekali lagi Mama...aku rela...tapi tak percaya...ampuni aku andai ini membuatmu tak tenang. Masih jelas Mama...sangat malah, kala Mama berucap... Ketika detik-detik akhir Mama "bagaimanapun Mama ingin sembuh, Mama ingin melihat kami bahagia...Mama ingin selalu...selalu dan selalu bersama kami.," namun seperti harapan2 Mama yang lain...keinginan ini pun tak mewujud nyata...bahkan lebih cepat dari dugaan, kala kami mulai tersenyum...menyambut kasih sayang Mama yang mulai menyemai...kasih sayang seorang ibu yang jadi dambaan paling utama bagi kami sebagai ANAK....
Kala itu., Tuhan memanggil Mama...Dan Mama hilang dari pandangan kami...Mama pergi dari kehidupan kami..Mama menjauh dari kami...
Luka ini akan abadi, bagaimana perasaanku saat...peti jenazah Mama di gugurkan ke liang lahat..saat Mama tertimbun bumi..saat itu aku ingin menjerit Mama...Jangan perlakukan mama seperti itu...Ingin ku tentang mereka yang mengatakan "kematian" mama...namun kenyataan di depan mata... di hadapanku...menghancur segala daya...memusnah rasa hidupku..aku hilang kendali...hingga kini..hingga akhir nanti...
Rangkaian peristiwa itu adalah penjelmaan air mataku. Betapa ku rasa kini jalanku tanpa cahaya... hanya hitam... Pekat menyelimuti. Beribu tanya dan bermacam rasa... ketegaran Mama, tak mampu ku gapai, terlalu lelah aku menjalani dari tak berumur hingga sebesar ini. Sekejab kurasakan kasih seorang ibu...lebih cepat lagi saat ia pergi.,
Seumpama mendung memang telah pergi, dan matahari menjelang...namun sayang sebelum senja tiba...matahari itu telah lebih dulu terbenam...!
Kenangan-kenanganku hanya akan bercerita tentangmu...Penderitaan dan ketegaran serta mayanya sebuah kebahagiaan...akan jadi pilu dalam kehidupanku..
Ku damba hadirmu selalu mama...Jangan menjauh dari mimpiku, walau kita tak bisa saling melihat lagi...
Walau mata dan kepalaku melihat dengan kejelasan yang teramat sangat, jazad Mama terbujur kaku, dingin dalam kebekuan tak terhitung derajat, meski Mama tetap diam ketika aku tak punya lagi air mata...dan semua susah payah membujuk bahwa yang terbaring dan tersenyum selamanya...yang tak lagi bernafas kehidupan...itu adalah Mama...
Tapi sekali lagi Mama...aku rela...tapi tak percaya...ampuni aku andai ini membuatmu tak tenang. Masih jelas Mama...sangat malah, kala Mama berucap... Ketika detik-detik akhir Mama "bagaimanapun Mama ingin sembuh, Mama ingin melihat kami bahagia...Mama ingin selalu...selalu dan selalu bersama kami.," namun seperti harapan2 Mama yang lain...keinginan ini pun tak mewujud nyata...bahkan lebih cepat dari dugaan, kala kami mulai tersenyum...menyambut kasih sayang Mama yang mulai menyemai...kasih sayang seorang ibu yang jadi dambaan paling utama bagi kami sebagai ANAK....
Kala itu., Tuhan memanggil Mama...Dan Mama hilang dari pandangan kami...Mama pergi dari kehidupan kami..Mama menjauh dari kami...
Luka ini akan abadi, bagaimana perasaanku saat...peti jenazah Mama di gugurkan ke liang lahat..saat Mama tertimbun bumi..saat itu aku ingin menjerit Mama...Jangan perlakukan mama seperti itu...Ingin ku tentang mereka yang mengatakan "kematian" mama...namun kenyataan di depan mata... di hadapanku...menghancur segala daya...memusnah rasa hidupku..aku hilang kendali...hingga kini..hingga akhir nanti...
Rangkaian peristiwa itu adalah penjelmaan air mataku. Betapa ku rasa kini jalanku tanpa cahaya... hanya hitam... Pekat menyelimuti. Beribu tanya dan bermacam rasa... ketegaran Mama, tak mampu ku gapai, terlalu lelah aku menjalani dari tak berumur hingga sebesar ini. Sekejab kurasakan kasih seorang ibu...lebih cepat lagi saat ia pergi.,
Seumpama mendung memang telah pergi, dan matahari menjelang...namun sayang sebelum senja tiba...matahari itu telah lebih dulu terbenam...!
Kenangan-kenanganku hanya akan bercerita tentangmu...Penderitaan dan ketegaran serta mayanya sebuah kebahagiaan...akan jadi pilu dalam kehidupanku..
Ku damba hadirmu selalu mama...Jangan menjauh dari mimpiku, walau kita tak bisa saling melihat lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)
