Cari Blog Ini

Kamis, 11 Februari 2010

Wasiat Takdir

1 komentar
Kau wasiatkan kenangan yang mencambuk detik-detik waktuku.
Melukai lugu asa-asa itu.
Apakah aku sedang merindukan rindu yang tidak merindukanku?
Mencita-citakan cinta yang tidak mencita-citakanku?
Beri tahu aku,
dimana alamat takdir itu!

Kisahku pada bintang

0 komentar
Bintang pudar menyemai lirih
Benih cahayanya terbakar gersang padang tandus kehidupan,
kemarau pada harapan.
Setitik indah, berfatwa karang
ku terus ada di titian ILAHI
untuk....
Menunggumu.!
Ku prasastikan kau di dalamnya hatiku...
Layaknya biru yang menghias laut.
Selamanya BaQA, tiada kan sirna!
Meski...Kau tak dapat ku miliki.

Sabtu, 06 Februari 2010

Fatamorgana bahagia...Takkan pernah menyata....

1 komentar
Malam ini dingin...aku sendiri mama...aku berjuang...ikhtiar agar tabah terima realita,...berusaha berdamai dengan nurani...membujuk agar tak tersesat dari jalan Ilahi....
Coba hadirkan senyum di antaqa taburan luka...membendung air mata yang jatuh tak bertara.
Dalam doa malamku...ku mengingatmu selalu mama...di tiap mimpiku...berharap penuh kau hadir...meski hanya sekejab...meski hanya melihat...tanpa bisa rengkuh mama...hanya menatap.
Tempat mama kini jauh,
tak satu daya yang kuasa 'tuk wujudkan mama jadi nyata... karena mama adalah hidup dan hidup berpasangan dengan mati....
Manusia hidup bertemu cobaan, penderitaan dan sengsara...mama.. Kini dengan linang air mata, dengan jiwa hampa...walau bagaimana harus ku sadar... mama milik Tuhan...sekarang Tuhan mengambil milik-Nya, dan aku bisa apa? Sepersekian detik pun ajal tak bisa di tunda...mama pernah bilang begitu kan...
Sebelum aku meminta ampun...tanpa sempat bersalam sayang...ku dapati mama telah beku... Memandangmu dengan kafan putih itu... Ya Allah...aku seperti gila...kenapa mama begitu cepat...?
Bukankah sehari sebelumnya mama berikrar "Mama sudah sembuh, dan berharap esok hari kami, semua anakmu...menjemputmu pulang ke rumah...dan sebagaimana anak-anak lain...merasakan lagi kasih ibu dan lindungan ayah...". Lalu esoknya mama datang sendiri...dan menyihir segala ketegaran kami jadi telaga penuh linang mata... Harap itu kini tinggal mimpi... Tuhan telah sembuhkan mama memisahkan Roh mama dari jazad mama. Kulihat mama tersenyum di sana, lambaikan tangan tanda berpisah...tak bisa ku balas senyummu mama....awan putih lebih dulu menyelimutimu dan tak kuasa ku balas lambai tanganmu....Angin itu perlahan meniupmu...menjauh dari pandangku...jauh dan jauh...naik kelangit...tanpa meninggal bekas...lenyap di balik mega hitam...bersama hujan tercurah pedihku...terungkap semua duka...hanya pada alam..!

Selasa, 02 Februari 2010

10 tahun melalui jalan kenyataan pahit...

0 komentar
Bukan hanya hari ini, tapi hari esok dan seterusnya...aku takkan melihat Mama lagi.... Belajar menerima realita...selamanya tak melihat Mama...bahkan saat kiamat tiba...! "perjumpaan itu takkan pernah ada". Perihku tak terlukis... tak satu kata pun yang bisa gambarkan...bahkan syair pun tak mampu mengutarakan...
Walau mata dan kepalaku melihat dengan kejelasan yang teramat sangat, jazad Mama terbujur kaku, dingin dalam kebekuan tak terhitung derajat, meski Mama tetap diam ketika aku tak punya lagi air mata...dan semua susah payah membujuk bahwa yang terbaring dan tersenyum selamanya...yang tak lagi bernafas kehidupan...itu adalah Mama...
Tapi sekali lagi Mama...aku rela...tapi tak percaya...ampuni aku andai ini membuatmu tak tenang. Masih jelas Mama...sangat malah, kala Mama berucap... Ketika detik-detik akhir Mama "bagaimanapun Mama ingin sembuh, Mama ingin melihat kami bahagia...Mama ingin selalu...selalu dan selalu bersama kami.," namun seperti harapan2 Mama yang lain...keinginan ini pun tak mewujud nyata...bahkan lebih cepat dari dugaan, kala kami mulai tersenyum...menyambut kasih sayang Mama yang mulai menyemai...kasih sayang seorang ibu yang jadi dambaan paling utama bagi kami sebagai ANAK....
Kala itu., Tuhan memanggil Mama...Dan Mama hilang dari pandangan kami...Mama pergi dari kehidupan kami..Mama menjauh dari kami...
Luka ini akan abadi, bagaimana perasaanku saat...peti jenazah Mama di gugurkan ke liang lahat..saat Mama tertimbun bumi..saat itu aku ingin menjerit Mama...Jangan perlakukan mama seperti itu...Ingin ku tentang mereka yang mengatakan "kematian" mama...namun kenyataan di depan mata... di hadapanku...menghancur segala daya...memusnah rasa hidupku..aku hilang kendali...hingga kini..hingga akhir nanti...
Rangkaian peristiwa itu adalah penjelmaan air mataku. Betapa ku rasa kini jalanku tanpa cahaya... hanya hitam... Pekat menyelimuti. Beribu tanya dan bermacam rasa... ketegaran Mama, tak mampu ku gapai, terlalu lelah aku menjalani dari tak berumur hingga sebesar ini. Sekejab kurasakan kasih seorang ibu...lebih cepat lagi saat ia pergi.,
Seumpama mendung memang telah pergi, dan matahari menjelang...namun sayang sebelum senja tiba...matahari itu telah lebih dulu terbenam...!
Kenangan-kenanganku hanya akan bercerita tentangmu...Penderitaan dan ketegaran serta mayanya sebuah kebahagiaan...akan jadi pilu dalam kehidupanku..
Ku damba hadirmu selalu mama...Jangan menjauh dari mimpiku, walau kita tak bisa saling melihat lagi...

Tanpa Senyum "Sang Dewi"

0 komentar
Maafkan aku Mama..., tak bisa menghapus harapan itu... harap yang terlalu, bahwa ini hanya mimpi, ilusi...terkadang aku ingin menjerit, mengapa belum aku di bangunkan dari mimpi paling ngeri ini, siapapun tak kan setuju perasaan gilaku...bahwa MAMA MASIH HIDUP! betapa fatamorgana ini adalah lakon paling terperih yang pernah ku mainkan, aku di tuntut harus bisa terima kenyataan "kehilangan separuh nyawaku"
Mama... kian jauh perjalananmu... semakin kuat kerinduanku ingin bertemu...Mama bahagia kan ma...
Aku tahu Mama..aku bukan lagi bocah 9th Yang menangis bila mainan paling di sayang di rampas....aku kini 20th,..aku memang 20th Ma...tapi aku sayang Mama...menerima tikaman seribu pedang lebih baik daripada menahan air mata kehilangan Mama!!
Tuhan terima ia...Luaskan tempat tinggalnya...Mama semoga kau bahagia selalu di sana...Aku sayang Mama..!

Masih tentang "sang dewi"

0 komentar
Aku paham deritamu... aku tahu kasihmu... Aku mengerti kasihmu...aku mengerti sakitmu dan aku kagum tegarmu... namun aku sungguh tak pintar menafsirkan makna... bahwa pandang sendu Mama saat itu adalah tanda pamit Mama....ketegaranmu Mama... mencipta pilu terpendam bagiku...kesadaranku menjelma saat Mama telah tiada...kesakitan terakhirmu pun kau simpan sendiri..itu adalah "sayangmu" mama.. "sayangmu" yang terus dan selalu ada dalam tiap langkahku!

Memori tentang "sang Dewi" (jum'at 3 maret 2000)

1 komentar
Pagi itu langit langit cerah Ma... Penuh harapanku utk bertemu Mama...Berita yang terdengar Mama telah kembali bersemangat...Akh...Mama berjuta mimpi telah ku rangkai...beribu rencana tertanam di benak...aku akan melihat Mama tersenyum lagi..tertawa seperti saat Mama masih tak terselimut penyakit tak berperasaan itu.
Dan...Mama...matahari naik sepengalah...Mama pulang di hantar...mama pucat...! Apa arti semua ini, Mama kaku, meski tersenyum, Mama tetap dingin walau mentari menyengat cahaya...
Ada apa., Mama hanya tidur kan...Mama akan bangun kan..., Mama jawablah...kenapa mereka memandikan Mama...Kenapa Ma..Ma dengar aku kan...jangan katakan Mama akan tinggalkan aku!...Ulangi lagi Ma tentang janji Mama "tak akan pernah pergi dariku..." katakan Ma...agar mereka tahu..Mama ku mohon...
Hatiku berair mata Ma...sungguh! Mama memang kembali... tapi tidak untukku, Mama kembali untuk Tuhan...!!

Senin, 01 Februari 2010

FITRAH MIMPI

0 komentar
Rembulan Ramadhan menyanjung Fitrah kesunyian.
Tercekat nafsu menunggu kemuliaan.
Berpuasa resah, menghela hakikat.
Aku punah...
Dalam amanah!
Sungguh...
Berdamping denganmu adalah lailatul qadar bagiku!